BBS.COM | TANGERANG, 29 Agustus 2026 – Sorotan terhadap proyek rekonstruksi Jalan Teluk Jakarta, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, berlanjut. Setelah sebelumnya muncul pertanyaan mengenai kondisi tanah, metode penanganan badan jalan, dan keberadaan material hasil bongkaran beton. Kini perhatian juga tertuju pada ketebalan lapisan agregat serta pembuktian mutu pekerjaan di lapangan.
Proyek yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026 tersebut disebut. Memiliki nilai sekitar Rp1,465 miliar dengan masa pelaksanaan 60 hari kalender. Dan dikerjakan oleh CV Adi Surya Contractor.
Pantauan lanjutan di lokasi menunjukkan pekerjaan masih berlangsung. Material agregat telah berada dan dihampar pada bagian badan jalan yang sedang direkonstruksi.
Namun, secara visual, pada sejumlah bagian terlihat ketebalan hamparan agregat perlu dipastikan kembali melalui pengukuran teknis. Pengamatan mata semata tidak cukup untuk menyimpulkan apakah ketebalan tersebut telah sesuai dengan spesifikasi.
Karena itu. Pengukuran aktual menjadi penting untuk membandingkan kondisi di lapangan dengan ketebalan yang tercantum dalam gambar rencana dan dokumen kontrak.

Ketebalan Agregat Perlu Dibuktikan dengan Pengukuran
Persoalan ketebalan lapisan bukan sekadar persoalan tampilan fisik. Dalam pekerjaan konstruksi jalan, ketebalan setiap lapisan merupakan bagian dari volume dan spesifikasi pekerjaan yang harus dapat dipertanggungjawabkan.
Jika dalam dokumen perencanaan ditentukan ketebalan tertentu, maka hasil pekerjaan semestinya dapat diverifikasi melalui pengukuran.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah pengukuran ketebalan lapisan agregat telah dilakukan oleh konsultan pengawas. Dan dicatat dalam laporan pengawasan pekerjaan.
Publik juga perlu mengetahui apakah material yang digunakan telah memenuhi persyaratan mutu dan gradasi sebagaimana ditetapkan dalam spesifikasi teknis.

Dengan demikian, klarifikasi tidak cukup hanya berdasarkan pernyataan bahwa pekerjaan telah dilaksanakan sesuai prosedur. Dokumen pengujian dan hasil pengukuran menjadi bagian penting untuk membuktikannya.
Kondisi Tanah Dasar Masih Menjadi Perhatian
Selain lapisan agregat, kondisi tanah dasar di lokasi juga masih menjadi perhatian.
Sebelumnya warga menyebut kondisi tanah pada badan jalan tersebut labil dan pernah mengalami penurunan. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai metode perbaikan tanah yang digunakan sebelum lapisan perkerasan dibangun.
Pada bagian yang dipantau, tidak terlihat adanya pekerjaan cerucuk. Namun, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa pekerjaan tidak sesuai spesifikasi.
Pasalnya, penggunaan cerucuk atau metode perbaikan tanah lainnya harus mengacu pada hasil penyelidikan tanah dan desain teknis proyek.
Karena itu, yang perlu dibuka adalah dasar perencanaannya.
Apabila berdasarkan hasil kajian teknis cerucuk memang tidak diperlukan, PPK maupun perencana perlu menjelaskan metode yang digunakan. Untuk memastikan daya dukung dan stabilitas tanah dasar.
Sebaliknya, jika terdapat item pekerjaan cerucuk dalam DED atau kontrak tetapi tidak dilaksanakan, maka perlu dijelaskan bagaimana perubahan tersebut. Ditetapkan dan apakah terdapat dokumen persetujuan atau perubahan pekerjaan yang sah.
Material Bongkaran Beton Masih Menjadi Pertanyaan
Persoalan material hasil bongkaran beton juga belum sepenuhnya terjawab.
Sejumlah warga sebelumnya mengaku melihat material hasil pembongkaran diangkut menggunakan kendaraan truk keluar dari lokasi pekerjaan.
Pertanyaan warga bukan semata-mata mengenai lokasi material tersebut, tetapi mengenai status dan dasar pemindahannya.
Apabila material bongkaran tersebut memiliki status sebagai material milik pemerintah daerah atau terdapat pengaturan khusus dalam kontrak. Maka harus terdapat pencatatan mengenai jumlah, lokasi penyimpanan atau tujuan pemindahan, serta pihak yang bertanggung jawab.
Hingga terdapat penjelasan resmi dan dokumen pendukung, tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa material tersebut telah disalahgunakan atau diperjualbelikan.
Namun, transparansi mengenai keberadaan material tetap diperlukan agar tidak menimbulkan pertanyaan di kemudian hari.
Akses Warga dan Metode Pembongkaran
Pembongkaran badan jalan secara menyeluruh juga masih menjadi perhatian masyarakat.
Sejumlah pengguna jalan sebelumnya mengeluhkan akses yang terganggu akibat pekerjaan. Warga mempertanyakan kemungkinan pelaksanaan pekerjaan secara bertahap sehingga sebagian badan jalan masih dapat digunakan.
Persoalan tersebut perlu dilihat dari sisi metode pelaksanaan dan keselamatan kerja.
Apabila penutupan badan jalan secara penuh memang diperlukan untuk menjaga kualitas dan keselamatan pekerjaan. Pihak pelaksana perlu memastikan tersedianya pengaturan lalu lintas dan akses alternatif yang memadai.
Sebaliknya, jika metode pelaksanaan memungkinkan pekerjaan dilakukan secara bertahap, pengaturan tersebut perlu dipertimbangkan agar dampak terhadap aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.
Dokumen Pengujian Menjadi Kunci
Dalam tahap pekerjaan berikutnya, perhatian publik semestinya tidak hanya diarahkan pada tampilan fisik proyek. Tetapi juga pada dokumen yang menyertai setiap tahapan pekerjaan.
Beberapa dokumen dan data yang penting untuk diperiksa antara lain:
- hasil penyelidikan tanah;
- DED dan gambar kerja;
- spesifikasi teknis;
- metode pelaksanaan;
- hasil pengujian material;
- hasil pengujian kepadatan;
- hasil pengukuran ketebalan lapisan;
- hasil pengujian CBR apabila dipersyaratkan;
- laporan konsultan pengawas;
- berita acara pekerjaan;
- dokumentasi progres;
- serta catatan mengenai material hasil bongkaran.
Dokumen tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah pekerjaan di lapangan telah sesuai dengan perencanaan dan kontrak.
PPK dan Konsultan Pengawas Perlu Buka Data Teknis
Dengan nilai proyek sekitar Rp1,465 miliar, masyarakat memiliki kepentingan untuk mengetahui bagaimana pekerjaan tersebut direncanakan dan diawasi.
PPK dan konsultan pengawas diharapkan dapat memberikan penjelasan setidaknya mengenai ketebalan setiap lapisan. Metode pemadatan, hasil pengujian material, kondisi tanah dasar, serta perlakuan terhadap material hasil bongkaran.
Pertanyaan lain yang perlu dijawab adalah apakah terdapat perubahan pekerjaan dari desain awal dan, apabila ada. Apakah perubahan tersebut telah dituangkan dalam dokumen administrasi yang sesuai.
Hal ini penting karena kesesuaian pekerjaan tidak hanya dilihat dari hasil akhir secara kasat mata. Tetapi juga dari kesesuaian volume, mutu, metode, dan administrasi pekerjaan.
Jangan Sampai Persoalan Baru Terlihat Setelah Jalan Selesai
Sorotan terhadap proyek ini. Diharapkan menjadi momentum untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan diperiksa sejak awal.Bukan setelah jalan selesai dan kemudian ditemukan persoalan.
Kondisi tanah yang berpotensi mengalami penurunan, ketebalan lapisan agregat, tingkat kepadatan, mutu material. Hingga pengelolaan material bongkaran merupakan bagian yang dapat diverifikasi sebelum pekerjaan dinyatakan selesai.
Jika seluruh pekerjaan telah sesuai dengan DED dan spesifikasi teknis. Hasil pengujian serta laporan pengawasan dapat menjadi bukti bahwa pekerjaan telah memenuhi persyaratan.
Namun, apabila ditemukan ketidaksesuaian, maka pihak terkait perlu melakukan koreksi sesuai mekanisme kontrak. Sebelum pekerjaan dinyatakan memenuhi persyaratan dan pembayaran prestasi pekerjaan dilakukan.
Masyarakat tidak meminta proyek dihentikan tanpa dasar. Yang dibutuhkan adalah transparansi dan kepastian bahwa rekonstruksi Jalan Teluk Jakarta benar-benar dikerjakan sesuai perencanaan. Menggunakan material yang memenuhi persyaratan, serta dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan administratif.
Hingga berita susulan ini disusun, sejumlah pertanyaan mengenai ketebalan agregat, kondisi tanah dasar, pengujian mutu dan kepadatan. Serta status material hasil bongkaran masih menunggu klarifikasi resmi dari PPK, Dinas terkait. Pemerintah Kabupaten Tangerang, konsultan pengawas, dan CV Adi Surya Contractor.
(Rum/Team)

