BBS.COM | TANGERANG — Proyek rekonstruksi Jalan Teluk Jakarta, Kelurahan Kuta Bumi, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, menjadi perhatian publik. Sejumlah tahapan pekerjaan, mulai dari pembongkaran beton jalan lama, pengangkutan material hasil bongkaran, pemadatan badan jalan. Penghamparan agregat hingga pengecoran Lean Concrete (LC), dinilai perlu disertai penjelasan teknis dan dokumentasi mutu yang memadai.
Proyek yang disebut bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026 itu memiliki nilai sekitar Rp1,465 miliar. Dengan masa pelaksanaan 60 hari kalender. Pekerjaan disebut dilaksanakan oleh CV Adi Surya Contractor.
Sorotan awal muncul pada proses pembongkaran badan jalan lama. Berdasarkan pantauan di lapangan, material hasil pembongkaran beton diangkut menggunakan armada pihak luar.



Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai status material hasil bongkaran. Apakah material tersebut merupakan material yang harus dibuang, dapat dimanfaatkan kembali, atau memiliki perlakuan lain berdasarkan dokumen kontrak.
Apabila material hasil bongkaran dimanfaatkan, dialihkan, atau memiliki nilai ekonomis, mekanisme dan dasar pengelolaannya perlu dijelaskan secara terbuka.Agar dapat diketahui apakah telah sesuai dengan ketentuan kontrak dan administrasi proyek.
Pemadatan Badan Jalan Jadi Sorotan
Perhatian berikutnya tertuju pada tahapan pemadatan badan jalan. Di lokasi terlihat penggunaan alat berat jenis vibro roller.
Namun, keberadaan alat pemadat tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tingkat kepadatan yang dipersyaratkan telah tercapai. Pembuktian mutu memerlukan hasil pengujian lapangan serta dokumentasi teknis sesuai spesifikasi pekerjaan.
Salah satu hal yang perlu dikonfirmasi adalah kondisi tanah dasar atau lapisan fondasi sebelum dilakukan pemadatan, termasuk parameter daya dukung.Seperti California Bearing Ratio (CBR) apabila dipersyaratkan dalam dokumen teknis proyek.
Selain itu, aspek kadar air material, metode pemadatan, jumlah lintasan alat, serta hasil pengujian kepadatan lapangan juga perlu dipastikan.
Dengan demikian, penilaian terhadap keberhasilan pemadatan tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan visual, tetapi perlu didukung data hasil pengujian.
Penghamparan Agregat Sebelum Pengecoran LC
Sebelum pengecoran lapisan Lean Concrete, badan jalan kembali dilakukan penghamparan agregat.

Saat dikonfirmasi awak media pada Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 15.50 WIB, seorang pekerja menyampaikan bahwa agregat kembali dihampar.Karena material sebelumnya dinilai masih kurang.
Ketika ditanyakan mengenai dasar penambahan tersebut, pekerja di lokasi menyampaikan bahwa pekerjaan dilakukan atas perintah kontraktor dan mandor.
Pada Minggu (30/8/2026), saat pelaksanaan pengecoran LC, dilakukan pengukuran pada bagian pekerjaan yang sedang diamati. Hasil pengukuran menunjukkan angka sekitar 6,8 hinga 10 sentimeter.
Hasil pengukuran tersebut perlu dibandingkan dengan ketebalan yang ditetapkan dalam gambar rencana, spesifikasi teknis, dan dokumen kontrak.
Pengukuran pada satu titik belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa keseluruhan pekerjaan tidak memenuhi spesifikasi. Diperlukan pengukuran pada sejumlah titik yang representatif serta pencocokan dengan dokumen teknis dan hasil pengujian mutu.
Mutu Agregat dan Kepadatan Perlu Dibuktikan
Dalam pekerjaan konstruksi jalan, ketebalan lapisan, gradasi agregat, kadar air, tingkat kepadatan. Dan daya dukung merupakan bagian penting dari pengendalian mutu.
Karena itu, konsultan pengawas dan pelaksana pekerjaan perlu dapat menunjukkan hasil pemeriksaan dan pengujian. Yang menjadi dasar penerimaan setiap tahapan pekerjaan.
Pertanyaan yang perlu dijawab antara lain apakah pengujian kepadatan lapangan telah dilakukan, apakah terdapat hasil pengujian CBR sesuai kebutuhan pekerjaan. Serta apakah mutu dan gradasi agregat telah memenuhi persyaratan yang tercantum dalam spesifikasi teknis.
Dokumentasi tersebut penting agar kualitas pekerjaan dapat dinilai berdasarkan data teknis, bukan semata-mata kondisi visual di lapangan.
Cerucuk dan Kondisi Tanah Perlu Dijelaskan
Selain persoalan pemadatan dan agregat, kondisi tanah pada lokasi pekerjaan juga menjadi perhatian.
Pada bagian yang dipantau, tidak terlihat adanya pekerjaan cerucuk. Namun, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa pekerjaan tidak sesuai spesifikasi.
Penggunaan cerucuk maupun metode perbaikan tanah lainnya pada dasarnya harus didasarkan pada hasil penyelidikan tanah, kondisi lapangan, desain struktur perkerasan. Dan ketentuan teknis yang berlaku.
Karena itu, hal yang perlu dibuka kepada publik bukan semata-mata ada atau tidaknya cerucuk, melainkan apa dasar perencanaan. Dan hasil penyelidikan tanah yang digunakan untuk menentukan metode penanganan badan jalan tersebut.
Apabila berdasarkan kajian teknis cerucuk memang tidak diperlukan, penjelasan tersebut juga penting agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh.
Pembongkaran dan Akses Pengguna Jalan
Pembongkaran badan jalan secara menyeluruh juga berdampak terhadap aktivitas pengguna jalan.
Sejumlah pengguna jalan disebut mengeluhkan terganggunya akses selama pekerjaan berlangsung. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai metode pelaksanaan dan pengaturan lalu lintas selama proyek berjalan.
Apabila penutupan badan jalan secara penuh diperlukan demi keselamatan maupun kualitas pekerjaan, pelaksana perlu memastikan tersedianya rambu, pengamanan lokasi. Serta akses alternatif yang memadai.
Aspek keselamatan pengguna jalan dan pekerja merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan selama proyek berlangsung.
Sepuluh Hal yang Perlu Dijelaskan
Untuk memastikan pelaksanaan proyek dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan administratif, terdapat sejumlah hal yang perlu dijelaskan oleh kontraktor, konsultan pengawas. Dan instansi terkait, antara lain:
- hasil penyelidikan dan pemeriksaan kondisi tanah dasar;
- hasil pengujian CBR atau parameter daya dukung yang dipersyaratkan;
- hasil pengujian kepadatan lapangan;
- metode dan prosedur pemadatan;
- pengaturan kadar air material;
- ketebalan rencana dan hasil pengukuran aktual lapisan agregat;
- hasil pengujian mutu dan gradasi agregat;
- dasar teknis penambahan agregat sebelum pengecoran LC;
- pencatatan seluruh tahapan pekerjaan dalam laporan harian dan laporan pengawasan; serta
- status dan mekanisme pengangkutan, pemanfaatan, pengalihan, atau pembuangan material hasil bongkaran beton.
Akan Dikawal hingga MC 100 Persen
Media, lembaga, dan masyarakat menyatakan akan terus memantau pelaksanaan rekonstruksi Jalan Teluk Jakarta. Mulai dari MC 0 persen, MC 50 persen hingga MC 100 persen.
Pemantauan dilakukan untuk melihat kesesuaian antara progres fisik di lapangan dengan dokumen kontrak, volume pekerjaan, spesifikasi teknis. Serta laporan kemajuan pekerjaan.
Data dan dokumentasi yang telah dihimpun akan menjadi bahan penelaahan lebih lanjut. Apabila setelah dilakukan verifikasi terdapat indikasi ketidaksesuaian yang memerlukan pemeriksaan resmi, data tersebut akan disampaikan. Melalui mekanisme pengaduan kepada Inspektorat, BPK, dan instansi berwenang lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut merupakan bentuk kontrol sosial terhadap pelaksanaan proyek yang menggunakan anggaran publik. Hal itu bukan merupakan kesimpulan bahwa telah terjadi pelanggaran, karena penentuan ada atau tidaknya. Pelanggaran merupakan kewenangan lembaga pemeriksa dan pihak berwenang berdasarkan hasil pemeriksaan.
Pihak kontraktor, konsultan pengawas, dan instansi terkait juga diharapkan memberikan klarifikasi serta data teknis yang diperlukan.Agar setiap persoalan yang menjadi perhatian masyarakat dapat diperiksa secara objektif.
Transparansi dokumen, hasil pengujian, dan pengawasan pada setiap tahapan pekerjaan menjadi penting untuk memastikan rekonstruksi. Jalan Teluk Jakarta dilaksanakan sesuai perencanaan, spesifikasi teknis, dokumen kontrak, serta ketentuan penggunaan anggaran publik. (Rum/Tim)

