BBS.COM | TANGERANG – Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah melakukan kunjungan dan monitoring ke Bank Sampah RW 025. Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Rabu (13/5/2026).
Dalam kunjungannya, Intan menyampaikan dukungan terhadap gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Yang dinilai mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan. Sekaligus meningkatkan nilai ekonomi warga.
“Bank sampah seperti ini sangat baik dan patut menjadi contoh bagi wilayah lain. Selain membantu mengurangi langsung sampah lingkungan. Program ini juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Karena sampah yang sebelumnya tidak bernilai kini bisa diolah dan dijual,” ujar Intan.
Ia mengapresiasi semangat gotong royong warga dan pengurus Bank Sampah RW 025 Bencongan. Dalam mengelola sampah lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberadaan bank sampah menjadi langkah nyata dalam mendukung program pengurangan sampah dari sumbernya. Sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan produktif.
Intan berharap pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kabupaten Tangerang. Untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.
Ia juga menegaskan Pemerintah Kabupaten Tangerang akan terus mendorong kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah. Dan pihak swasta dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
Sementara itu. Ketua Eco Pioneer mengatakan partisipasi masyarakat dalam program bank sampah terus meningkat. Dan kini telah menjangkau berbagai RT dan RW di wilayah Bencongan.
Menurutnya, warga aktif terlibat dalam proses pemilahan, pembersihan. Hingga pengolahan sampah bernilai jual yang tidak hanya membantu mengurangi volume sampah lingkungan tetapi juga membuka peluang tambahan penghasilan.
Selain itu, warga juga mengembangkan sejumlah inovasi, mulai dari pengolahan sampah organik menjadi kompos, pemanfaatan minyak jelantah. Hingga penggunaan alat pirolisis sederhana untuk mengurangi sampah residu.
Namun demikian, pihak pengelola masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana, seperti kebutuhan alat pirolisis, komposter. Serta fasilitas pendukung pengolahan sampah lainnya.
“Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar budaya memilah sampah menjadi kebiasaan sehari-hari,” ujar Ketua Eco Pioneer.(Sul)

