BBS.COM | BANTEN — Masyarakat Baduy tidak hanya menjaga kelestarian hutan tetapi juga melindungi sumber air dan keseimbangan lingkungan bagi wilayah sekitarnya, termasuk masyarakat yang tinggal di daerah hilir.
Keteladanan masyarakat adat Baduy. Dalam menjaga alam selama ratusan tahun dinilai sebagai warisan berharga yang perlu terus dilestarikan.
“Kepada para tokoh adat dan masyarakat Baduy, terima kasih atas keteladanan dalam menjaga alam selama ratusan tahun. Hal tersebut merupakan warisan berharga, bukan hanya bagi masyarakat Banten, tetapi juga bagi Indonesia,” ujar seorang pejabat dalam sambutannya.
Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Urang Banten Komjen Pol (Purn). Taufiqurrahman Ruki menyampaikan, pada 2026 jumlah masyarakat Baduy mencapai sekitar 16.000 jiwa yang tersebar di 68 kampung.
Menurut Ruki, lahan garapan menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Baduy. Ia menyebutkan, pola bercocok tanam masyarakat setempat dilakukan satu kali dalam setahun.
“Lahan garapan mencapai 599 ribu hektar. Tanam setahun sekali,” kata Ruki.
Ia mendorong pemerintah untuk memperhatikan ketersediaan lahan garapan bagi masyarakat Baduy dan warga di wilayah sekitarnya. Menurut dia, akses terhadap lahan garapan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
“Termasuk masyarakat sekitar sini. Kalau mereka memiliki hak garap, insya Allah bisa memiliki sumber pangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut. Ruki juga menyampaikan bahwa dari total 70.000 bibit pohon. Yang disiapkan sebanyak 40.000 bibit telah diserahkan untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan.
Penyaluran bibit dilakukan melalui delapan pintu masuk wilayah Baduy.Adapun waktu penanaman disesuaikan dengan perhitungan berdasarkan kearifan lokal masyarakat adat setempat.
Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari upaya menghormati tradisi masyarakat Baduy sekaligus mendukung keberlanjutan kegiatan pelestarian alam.**

