BBS.COM | LEBAK – Ratusan jurnalis mengikuti rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Yang digelar oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) pada 9–12 Februari 2026. Salah satu agenda utama adalah kunjungan ke Museum Multatuli di Kabupaten Lebak, Banten, sebagai bagian dari program literasi sejarah.
Kunjungan dipimpin oleh Sekretaris Jenderal SMSI Pusat Makali Kumar idampingi Dewan Penasehat SMSI Pusat Moh. Nasir dan Ketua SMSI Provinsi Banten Lesman Bangun. Rombongan disambut perwakilan Pemerintah Kabupaten Lebak dari Dinas Komunikasi dan Informatika, Sehabudin.
Makali Kumar menekankan pentingnya kegiatan ini untuk memperkaya perspektif sejarah dan memperkuat nilai-nilai jurnalistik. Ia menyebut bahwa sejarah Lebak, khususnya melalui karya Multatuli. Memberi inspirasi bagi pers. Untuk tetap berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan.

Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker, adalah pejabat kolonial Belanda yang pernah menjabat Asisten Residen Lebak pada 1856. Ia mengundurkan diri setelah menyaksikan praktik penindasan terhadap rakyat pribumi. Pengalaman yang kemudian dituangkan dalam novel Max Havelaar (1860).Yang mengguncang dunia internasional.
Di museum, peserta menelusuri ruang pamer yang menampilkan arsip kolonial, ilustrasi sejarah, dan diorama sosial-politik masa tanam paksa. Kepala Subbagian Tata Usaha Museum Multatuli, Lia Havila, memandu kunjungan dan menjelaskan bahwa Max Havelaar menjadi tonggak penting. Dalam membuka praktik ketidakadilan sistem tanam paksa di Hindia Belanda. Karya ini menjadi simbol perlawanan moral terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang.
Kunjungan ke Museum Multatuli merupakan salah satu agenda utama HPN 2026 SMSI. Selain memperkaya wawasan sejarah.Kegiatan ini juga mempertegas komitmen pers. Untuk menjalankan fungsi kontrol sosial secara kritis, berimbang. Dan bertanggung jawab.*

